Kampus tampak ramai pagi itu, dan memang cuacanya sangat cerah hari itu. Kulangkahkan kakiku menuju ruangan kuliah ku. Aku kebagian kuliah pagi ini, malas banget rasanya. Karena cuacanya indah kayak gini harusnya dinikmati dengan santai. Sudah ramai didalam ruangan, aku lihat teman-teman dekatku sudah pada ngumpul. Banyak yang bilang kami bertiga mendapat julukan “nona-nona rumpi”. Konyol memang, karena kami selalu bersama.
“Nah itu ria, sini ri” panggil susan sambil melambaikan tangannya saat aku berdiri didepan pintu ruang kuliah. Lalu aku menghampiri mereka yang sedang tampak serius ngobrol. “ada apa?? Kayaknya serius banget, da kasus apa lagi??” Tanya ku pada susan dan mita. “si rini sudah nyetorin uang kas yang dia pinjem waktu itu atau belum??” Tanya mita. Lalu aku mengingat-ingat lagi tentang hal tersebut. Ya benar Rini sempat meminjam uang kas fakultas kami sebanyak satu juta setengah dengan alas an untuk keperluan berobat ibunya waktu itu. Dengan catatan dia mengembalikannya satu bulan setelah dia meminjam waktu itu. Ya benar hari ini seharusnya sudah jatuh tempo, aku lupa menagih uang tersebut kepada Rini. “oh iya ya, hari ini jatuh temponya, nanti deh pulang kuliah aku bicara dengan Rini” kataku kepada mereka. Aku selaku bendahara memang bertanggung jawab atas uang yang kas yang aku pegang.
“Rin, tunggu. Aku mau bicara” panggilku pada Rini yang kelihatan sangat terburu-buru keluar dari kelas selesai kuliah diberikan. “Eh ria, tapi akuharus pergi lagi. Ada keperluan mendadak yagn harus aku lakukan” jawab Rini saat itu dengan wajah yang kelihatan gugup. “Sebentar aja koq, ga nyampe 10 menit” Lalu aku menarik tangan Rini ke dalam ruangan kuliah lagi yang saat itu sudah kosong. “Ada apa ri?? “ Tanya Rini lagi-lagi sedikit gugup. “hmm, kamu tidak melupakan sesuatu kan??” Tanya ku pada Rini memancing supaya Rini sadar sendiri apa yang aku maksud. “apa ya ri??” jawab rini sekenanya. “kamu tidak melupakan perjanjian kita satu bulan yang lalu kan rin??” kulihat warna wajah Rini yang berubah, lalu ku keedipkan mataku untuk mengisyaratkan kalo aku tidak akan mengulang pertanyaanku lagi. “hmm, soal uang yang aku pinjam ya ri??” aku anggukkan kepalaku lalu mengangkat alis mataku keatas tanda menunggu jawaban dia selanjutnya. “maaf ri, aku belum bisa mengembalikannya. Uangku belum cukup ri. Nanti ya kalo uangnya dah cukup semua aku kembaliin. Aku janji ri” dengan wajah memelas dan pucat pasi Rini sambil memohon waktu untuknya. Karena tidak tega melihat wajahnya yang memohon seperti itu akhirnya akupun menyetujui permintaan Rini. Dengan syarat harus segera melunasinya. Kamipun sepakat, lalu Rini meminta aku untuk tidak menceritakan hal ini kepada siapapun karena dia malu. Akupun menyanggupinya, karena Rini adalah teman kecilku dan aku mengetahui kesulitannya.
Sejak saat itu ada yang aneh terjadi, Rini seolah-olah menghindariku. Bahkan berhembus rumor kalau aku telah memakai dana kas untuk keperluan pribadiku. Aku sendiri yang mengetahui hal tersebut sengaja tidak mengkonfirmasi ulang berita tersebut karena merasa kasihan dengan Rini yang nampaknya mempunyai kesulitan dalam hal uang. Kalau aku cerita hal tersebut dengan teman-teman pasti mereka akan lebih menekan Rini untuk mengembalikannya dan merasa malu atas perbuatannya. Maka tanpa pikir panjang akupun mengganti uang kas tersebut dengan uang tabunganku sendiri, dengan begitu nama baiknya terjaga. Tapi aku tidak menyangka klo hal itulah yang menjadikan aku sebagai tersangka yang menggunakan dana umum untuk keperluan pribadi. Masalah ini cukup mengganggu kelancaran kuliahku, karena aku harus mendengarkan sindiran-sindiran dari teman-teman satu kampusku. Sementara teman dekatku susan dan mita ikut menjauhiku dikarenakan aku tidak cerita sama sekali dengan mereka perihal Rini yang tidak bisa menepati janjinya untuk mengembalikan uang tersebut tepat waktu. Sementara itu tidak ada kabar dari Rini kapan dia bisa mengembalikan uang kas tersebut. Karena tiap kali aku mencarinya dia selalu bisa menghindar dan tidak bisa menemuiku.
Hari kehari berlalu, malam itu dirumahku menunjukkan pukul sembilan malam. Aku masih berkutat dengan tugas kampusku yang harus aku selesaikan hari itu juga. Lalu terdengar suara bel rumah, karena dirumah sedang tidak ada siapa-siapa akupun beranjak dari tempat dudukku untuk melihat siapa yang bertamu malam-malam begini.
“Siapa itu??” tanyaku dari dalam rumah. “aku ri, Rini” jawabnya dari luar. Lalu aku membuka pintu dan betapa terkejutnya aku melihat sosok Rini yang penuh dengan perban di kepala dan tangannya. “Rini kamu kenapa??kenapa tubuhmu penuh perban??” tanyaku sambil terheran-heran. “Ri, besok pagi kamu kerumahku ya. Jangan lupa, loh. Sudah ya aku pulang dulu, malem riii” rini berlari kecil keluar pagar sambil melambai kearahku meninggalkan aku yang bengong. Karena sudah malam dan tidak mungkin aku mengejar Rini yang berlalu dengan begitu cepat lalu aku masuk kerumah dan mengunci pintu.
Keesokkan paginya, sesuai permintaan Rini malam tadi akupun menuju rumah Rini. Sekalian aku mau menjenguk rini dan bertanya ada apa dengannya tadi malam. Pasti dia tidak masuk kuliah hari ini dikarenakan luka yang terlihat olehku cukup parah. Dalam hati berkata “semoga Rini baik-baik saja” gumamku dengan perasaan khawatir.
Sambil menikmati udara komplek perumahan yang begitu segar pagi itu, matakupun terhenti didepan rumah Rini. “kenapa rumahnya ramai sekali” batinku. Aku lihat sebagian dari mereka menggunakan pakaian serba hitam dan jg berkopiah duduk didepan teras rumah Rini sambil memegang buku kecil yang tidak lain adalah buku YASIN. Aku ayunkan kakiku menuju kedalam rumah, mataku terhenti pada sosok ibu yang sedang menangis disamping tubuh yang tertutup dengan kain panjang. “ada apa ini??kenapa ibu Rini menangis seperti itu” tanyaku dalam hati tak mampu berucap. Lalu aku dekati ibu Rini yang langsung memelukku pelan sambil berkata “Rini sudah tiada nak ria” katanya sambil sesenggukan dipelukanku. “innalillahi wa’innailaihi roji’un” kataku berucap tanpa terasa menetes air mataku di pipi. Ibu Rini memandangku sambil menghapus airmata dipipiku, lalu berkata “dia kecelakaan tadi malam sewaktu pulang dari rumah om nya”. Aku terdiam, lalu ibunya kembali melanjutkan “dia membawa ini” kata ibu Rini sambil menyodorkan amplop coklat yang tertutup rapih. “Rini memberikan pesan maaf nya pada nak Ria lalu menyuruh ibu menyerahkan ini pada nak Ria ketika dia sekarat sewaktu dimasukkan keruang UGD”. Aku terkejut “Ya ALLAH, bahkan akupun sudah mengikhlaskan masalah itu. Bahkan aku tidak pernah marah tentang hal tersebut. Tidak ada yang perlu dimaafkan bu..Rini temanku dan aku pasti bantu dia. Tidak perlu seperti ini, uang ini bukan apa-apa.” Kataku kepada ibu Rini sambil mengembalikan uang tersebut kepadanya. Sambil menangis ibu Rini pun mencium tanganku lalu berkata “maafin Rini ya nak, ambillah uang ini. Biar Rini tenang disana”. Karena melihat wajah ibunya yang sedih, akupun menerima uang tersebut dengan berat hati karena keikhlasanku yang benar-benar ingin membantu Rini disaat itu.
Setelah pemakaman Rini akupun pulang kerumah dengan masih menyisakan tanda tanya dan perasaan yang sangat kehilangan seorang teman kecilku. Kembali terbersit kejadian tadi malam, lantas siapa yang menemui aku tadi malam. Bukannya Rini kecelakaan tadi malam. Seketika bulu kudukku berdiri, dan mengucapkan doa untuk arwah temanku Rini. Sambil berkata dalam hati “semua sudah aku ikhlaskan Rin, baik-baik kau disana teman”.
Hidup itu memang penuh misteri, dan akupun tidak menyukainya.
By : lia (
